Powered By Blogger

Minggu, 15 Februari 2009






Diskurkus tentang mahasiswa dan gerakannya sudah lama menjadi pokok bahasan dalam berbagai kesempatan pada hampir sepanjang tahun. Begitu banyaknya forum-forum diskusi yang diadakan, telah menghasilkan pula pelbagai tulisan, makalah, maupun buku-buku yang diterbitkan tentang hakikat, peranan, dan kepentingan gerakan mahasiswa dalam pergulatan politik kontemporer di Indonesia. Terutama dalam konteks keperduliannya dalam meresponi masalah-masalah sosial politik yang terjadi dan berkembang di tengah masyarakat.

Bahkan, bisa dikatakan bahwa gerakan mahasiswa seakan tak pernah absen dalam menanggapi setiap upaya depolitisasi yang dilakukan penguasa. Terlebih lagi, ketika maraknya praktek-praktek ketidakadilan, ketimpangan, pembodohan, dan penindasan terhadap rakyat atas hak-hak yang dimiliki tengah terancam. Kehadiran gerakan mahasiswa --- sebagai perpanjangan aspirasi rakyat ---- dalam situasi yang demikian itu memang amat dibutuhkan sebagai upaya pemberdayaan kesadaran politik rakyat dan advokasi atas konflik-konflik yang terjadi vis a vis penguasa. Secara umum, advokasi yang dilakukan lebih ditujukan pada upaya penguatan posisi tawar rakyat maupun tuntutan-tuntutan atas konflik yang terjadi menjadi lebih signifikan. Dalam memainkan peran yang demikian itu, motivasi gerakan mahasiswa lebih banyak mengacu pada panggilan nurani atas keperduliannya yang mendalam terhadap lingkungannya serta agar dapat berbuat lebih banyak lagi bagi perbaikan kualitas hidup bangsanya.

Dengan demikian, segala ragam bentuk perlawanan yang dilakukan oleh gerakan mahasiswa lebih merupakan dalam kerangka melakukan koreksi atau kontrol atas perilaku-perilaku politik penguasa yang dirasakan telah mengalami distorsi dan jauh dari komitmen awalnya dalam melakukan serangkaian perbaikan bagi kesejahteraan hidup rakyatnya. Oleh sebab itu, peranannya menjadi begitu penting dan berarti tatkala berada di tengah masyarakat. Saking begitu berartinya, sejarah perjalanan sebuah bangsa pada kebanyakkan negara di dunia telah mencatat bahwa perubahan sosial (social change) yang terjadi hampir sebagian besar dipicu dan dipelopori oleh adanya gerakan perlawanan mahasiswa.

Alasan utama menempatkan mahasiswa beserta gerakannya secara khusus dalam tulisan singkat ini lantaran kepeloporannya sebagai "pembela rakyat" serta keperduliannya yang tinggi terhadap masalah bangsa dan negaranya yang dilakukan dengan jujur dan tegas. Walaupun memang tak bisa dipungkiri, faktor pemihakan terhadap ideologi tertentu turut pula mewarnai aktifitas politik mahasiswa yang telah memberikan konstribusinya yang tak kalah besar dari kekuatan politik lainnya. Oleh karenanya, penulis menyadari bahwa deskripsi singkat dalam artikel ini belum seutuhnya menggambarkan korelasi positif antara pemihakan terhadap ideologi tertentu dengan kepeloporan yang dimiliki dalam menengahi konflik yang ada. Mungkin bisa dikatakan artikel ini lebih banyak mengacu pada refleksi diskursus-diskursus politik kekuasaan otoritarian Orde Baru yang sengit dilakukan di kalangan aktifis mahasiswa dalam dekade 90-an. Di mana sebagian besar gerakan-gerakan mahasiswa yang terjadi kala itu, penulis ikut terlibat di dalamnya. Tentunya, pendekatan analisis dalam artikel ini lebih mengacu pada gerakan mahasiswa pro-demokrasi jauh sebelum maraknya gerakan mahasiswa dalam satu tahun terakhir ini, yang akhirnya mengantarkan pada pengunduran diri Presiden Soeharto.

Pemihakan terhadap ideologi tertentu dalam gerakan mahasiswa memang tak bisa dihindari. Pasalnya, pada diri mahasiswa terdapat sifat-sifat intelektualitas dalam berpikir dan bertanya segala sesuatunya secara kritis dan merdeka serta berani menyatakan kebenaran apa adanya. Maka, diskursus-diskursus kritis seputar konstelasi politik yang tengah terjadi kerap dilakukan sebagai sajian wajib yang mesti disuguhkan serta dianggap sebagai tradisi yang melekat pada kehidupan gerakan mahasiswa.

Pada mahasiswa kita mendapatkan potensi-potensi yang dapat dikualifikasikan sebagai modernizing agents. Praduga bahwa dalam kalangan mahasiswa kita semata-mata menemukan transforman sosial berupa label-label penuh amarah, sebenarnya harus diimbangi pula oleh kenyataan bahwa dalam gerakan mahasiswa inilah terdapat pahlawan-pahlawan damai yang dalam kegiatan pengabdiannya terutama (kalau tidak melulu) didorong oleh aspirasi-aspirasi murni dan semangat yang ikhlas. Kelompok ini bukan saja haus edukasi, akan tetapi berhasrat sekali untuk meneruskan dan menerapkan segera hasil edukasinya itu, sehingga pada gilirannya mereka itu sendiri berfungsi sebagai edukator-edukator dengan cara-caranya yang khas".

Masa selama studi di kampus merupakan sarana penempaan diri yang telah merubah pikiran, sikap, dan persepsi mereka dalam merumuskan kembali masalah-masalah yang terjadi di sekitarnya. Kemandegan suatu ideologi dalam memecahkan masalah yang terjadi merangsang mahasiswa untuk mencari alternatif ideologi lain yang secara empiris dianggap berhasil. Maka tak jarang, kajian-kajian kritis yang kerap dilakukan lewat pengujian terhadap pendekatan ideologi atau metodologis tertentu yang diminati. Tatkala, mereka menemukan kebijakan publik yang dilansir penguasa tidak sepenuhnya akomodatif dengan keinginan rakyat kebanyakan, bagi mahasiswa yang committed dengan mata hatinya, mereka akan merasa "terpanggil" sehingga terangsang untuk bergerak.

Dalam kehidupan gerakan mahasiswa terdapat adagium patriotik yang bakal membius semangat juang lebih radikal. Semisal, ungkapan "menentang ketidakadilan dan mengoreksi kepemimpinan yang terbukti korup dan gagal" lebih mengena dalam menggugah semangat juang agar lebih militan dan radikal. Mereka sedikit pun takkan ragu dalam melaksanakan perjuangan melawan kekuatan tersebut. Pelbagai senjata ada di tangan mahasiswa dan bisa digunakan untuk mendukung dalam melawan kekuasaan yang ada agar perjuangan maupun pandangan-pandangan mereka dapat diterima. Senjata-senjata itu, antara lain seperti; petisi, unjuk rasa, boikot atau pemogokan, hingga mogok makan. Dalam konteks perjuangan memakai senjata-senjata yang demikian itu, perjuangan gerakan mahasiswa --- jika dibandingkan dengan intelektual profesional ---- lebih punya keahlian dan efektif.

Kedekatannya dengan rakyat terutama diperoleh lewat dukungan terhadap tuntutan maupun selebaran-selebaran yang disebarluaskan dianggap murni pro-rakyat tanpa adanya kepentingan-kepentingan lain meniringinya. Adanya kedekatan dengan rakyat dan juga kekauatan massif mereka menyebabkan gerakan mahasiswa bisa bergerak cepat berkat adanya jaringan komunikasi antar mereka yang aktif ( ingat teori snow bowling)..

Oleh karena itu, sejarah telah mencatat peranan yang amat besar yang dilakukan gerakan mahasiswa selaku prime mover terjadinya perubahan politik pada suatu negara. Secara empirik kekuatan mereka terbukti dalam serangkaian peristiwa penggulingan, antara lain seperti : Juan Peron di Argentina tahun 1955, Perez Jimenez di Venezuela tahun 1958, Soekarno di Indonesia tahun 1966, Ayub Khan di Paksitan tahun 1969, Reza Pahlevi di Iran tahun 1979, Chun Doo Hwan di Korea Selatan tahun 1987, Ferdinand Marcos di Filipinan tahun 1985, dan Soeharto di Indonesia tahun 1998. Akan tetapi, walaupun sebagian besar peristiwa pengulingan kekuasaan itu bukan menjadi monopoli gerakan mahasiswa sampai akhirnya tercipta gerakan revolusioner. Namun, gerakan mahasiswa lewat aksi-aksi mereka yang bersifat massif politis telah terbukti menjadi katalisator yang sangat penting bagi penciptaan gerakan rakyat dalam menentang kekuasaan tirani.

KeLeMbAgAaN MaHaSiSwA

Perjalanan sejarah demokrasi di Indonesia mengalami perubahan yang luar biasa pada tahun 1998. Ketika rezim orde baru berkuasa kebebasan untuk mengeluarkan pendapat, menyam-paikan aspirasi sangat dibatasi apalagi ketika aspirasi-aspirasi yang menyangkut pemerintahan pada saat itu. Tidak sedikit para aktivis yang ditangkap dan dijebloskan ke penjara karena suara vokalnya.

Pada tahun 1998 merupakan tonggak sejarah dalam perjalanan demokrasi Indonesia. Sejak jatuhnya rezim orde baru berganti dengan era reformasi, kebebasan masyarakat untuk mengeluarkan pendapat, berserikat, berkumpul, menyampaikan aspi-rasi, dijamin sepenuhnya oleh pemerintah dalam undang-undang. Perubahan demo-krasi yang begitu dahsyatnya itu tidak lain merupakan hasil perjuangan mahasiswa. Banyak pengamat menilai bahwa per-juangan mahasiswa tersebut adalah murni sebagai gerakan mahasiswa tanpa di-boncengi pihak-pihak tertentu, karena per-juangan mereka didasari pada nilai-nilai intelektual dan moral.

Perjuangan mahasiswa dalam perjalanan demokrasi negara, ternyata diterapkan juga di lingkungan kampus. Di tahun yang sama mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi melakukan pertemuan yang menghasilkan bahwa di setiap kampus perlu dibentuk badan eksekutif sebagai pelaksana terhadap aspirasi mahasiswa yang dikenal dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), dan suatu badan yang berfungsi sebagai pengontrol lembaga eksekutif yang selanjutnya disebut Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) atau Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM). Sedangkan lembaga yudikatifnya di lingkungan kampus tidak ada, karena terbentur dengan sistem birokrasi rektorat.

Hal yang sama juga terlihat adanya pemilu pada kampus untuk memilih ketua BEM dan mahasiswa yang akan duduk di DPM, sebagaimana pemilu negara untuk memilih presiden dan anggota DPR. Pemilu kampus pun juga menggunakan sistem kepartaian yang berisikan mahasiswa yang memiliki ideologi, visi, misi yang sama. Dari pengamatan, terdapat beberapa poin penting pada sistem partai dalam pemilu kampus, antara lain:

Pertama, partai menjadikan pemilu lebih menarik. Kita sadari bahwa kondisi mahasiswa saat ini sangat apatis. Maha-siswa terlalu disibukkan dengan aktivitas perkuliahan, tugas-tugas kuliah, sehingga lupa akan interaksi sosial dengan kelembagaan-kelembagaan mahasiswa. Hal tersebut tentu saja fungsi kontrol maha-siswa dan regenerasi terhadap kelembagaan mahasiswa tidak berjalan sepenuhnya. Dengan adanya partai diharapkan mening-katkan mahasiswa untuk ikut berperan serta dalam kelembagaan mahasiswa dan mempermudah regenerasi kelembagaan.

Kedua, partai menjadikan persaingan dalam pemilu lebih besar. Dengan banyaknya partai yang mengikuti pemilu kampus, tentunya persaingan pun lebih besar. Di sini akan terlihat cara-cara yang dilakukan partai untuk memenangkan pemilu, apakah “sehat” sesuai dengan prosedur-prosedur yang ditentukan atau tidak. Karena bukan hal mustahil terjadi kecurangan-kecurangan dalam pemilu. Peran mahasiswa sangat diperlukan dalam hal ini untuk fungsi kontrol pemilu.

Ketiga, partai mencerminkan ideologi mahasiswa. Kita tidak dapat pungkiri bahwa terdapat ideologi-ideologi yang berkem-bang di kalangan mahasiswa, dan biasanya dari kesamaan ideologi itulah muncul partai-partai mahasiswa. Dengan demikian terlihat jelas ketika terdapat calon-calon ketua eksekutif maupun legislatif, mahasiswa sebagai pemilih dapat mengetahui latar belakang, asal, dan siapa yang berada di belakang si calon tersebut.

Dengan keterbatasan yang ada mahasiswa telah berhasil menerapkan sistem kene-garaan di lingkungan kampus, meskipun tidak mutlak sepenuhnya. Kita dapat mengatakan bahwa kampus merupakan sebuah replika kecil dari negara. Tetapi yang jadi pertanyaan adalah apakah demokrasi kampus sudah berjalan dengan semestinya? Apakah pemilu kampus sudah berjalan dengan transparan dan jujur? Apakah lembaga dan partai mahasiswa sudah mewakili aspirasi mahasiwa ataukah hanya aspirasi sekelompok golongan? Hal tersebut tentunya harus kita sadari bersama fungsi dan peran kita sebagai mahasiswa sebagai kaum muda yang bertindak dengan mengedepankan nilai-nilai moral dan intelektual. Wallahua’alam bishowab.

Jumat, 21 November 2008

teori sibernetika

Menurut teori ini terdapat dua jenis dunia, yaitu dunia yang penuh kebenaran hakiki dan dunia fisik organis. Di antara kedua dunia ini dipisahkan budaya, sosial termasuk hukum, politik dan ekonomi.

Dunia fisik organis sebagai dunia yang lebih dekat dengan aspek ekonomi tidak memiliki nilai-nilai. Dunia ini namun demikian memiliki banyak energi untuk menjadi sebuah motivasi. Dengan menggunakan energinya, fisik organis dapat menggerakkan politik untuk kemudian digunakan untuk memfungsikan hukum. Akhirnya hukum dapat berfungsi sebagai instrumen rekayasa nilai-nilai budaya.

Namun dari sisi yang lain, dunia hakiki memiliki berbagai nilai-nilai. Dunia kebenaran ini akan menyampaikan nilai-nilainya pada sistem sosial termasuk hukum di dalamnya, sehingga hukum dirumuskan dari norma yang mengakar dari budaya. Sistem politik kemudian diatur berdasarkan budaya untuk menggerakkan sistem ekonominya.

Berikut beberapa asas hukum, kalau ada yang salah atau penambahan silahkan saja.

Nullum crimen nulla poena sine lege
Tidak ada kejahatan tanpa peraturan perundang-undangan yang mengaturnya.

Lex superiori derogat lege inferiori
Peraturan yang lebih tinggi mengesampingkan peraturan yang lebih rendah, lihat dalam Pasal 7 UU No. 10 Tahun 2004

Lex posteriori derogat lege priori
Peraturan yang terbaru mengesampingkan peraturan yang sebelumnya. Pahami juga, lex prospicit, non respicit.

Lex specialis derogat lege generali
Peraturan yang lebih khusus mengesampingkan peraturan yang bersifat lebih umum, lihat Pasal 1 KUHD.

Res judicata pro veritate habeteur
Putusan hakim dianggap benar sampai ada putusan hakim lain yang mengoreksinya.

Lex dura sed tamen scripta
Undang-undang bersifat memaksa, sehingga tidak dapat diganggu gugat.

Die normatieven kraft des faktischen
Perbuatan yang dilakukan berulang kali memiliki kekuatan normatif, lihat Pasal 28 UU No. 4 Tahun 2004.


Sabtu, 08 November 2008


Tinggal menunggu waktu sang bintang akan merumput di ac milan,,,
kabar gembira buat para Milanisti

Welcome david beckham,,, buktikan kalo kmu bisa membuat milan kembali menjadi klub yang disegani di seluruh italia, eropa dan dunia...
Bravo milanisti..

Rabu, 20 Agustus 2008

AbAd ReVoLuSi
ADA banyak ciri dari peradaban modern, yang postif maupun yang destruktif, yang khas abad ke-20, baik karena ciri-ciri tersebut tidak ada di masa lalu, atau yang lebih lazim, karena ciri-ciri ini telah berubah di luar yang kita bayangkan. Kebanyakan narasi mengedepankan persoalan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang asalnya bukan abad ini tetapi telah mengubah kumulatif seluruh pola keberadaan manusia dengan cara-cara yang tak terbayangkan pada akhir abad sebelumnya. Misalnya dikemukakan bahwa pada abad ke-20 terjadi perkembangan besar kekuatan-kekuatan produksi, yang menghasilkan peningkatan besar kapasitas umat manusia untuk memproduksi kekayaan, yang lebih besar daripada seluruh abad dan milenia sebelumnya. Perubahan teknologi yang pesat ini jelas terlihat dalam produksi industri dan teknologi informasi; bahkan dalam pertanian perubahannya begitu dramatis sehingga kaum tani dalam pengertian lama, pertanian pemenuhan kebutuhan sendiri dan produksi untuk digunakan secara lokal dengan alat-alat bukan industri, sekarang di sebagian terbesar dunia sedang menghilang. Pada ujung lain pencapaian ini, aspek destruktif teknologi mendatangkan ancaman pada lingkungan alam, yang untuk pertama kali dalam sejarah umat manusia, sehingga tidak jelas apakah spesies, ataukah planet itu sendiri, bisa selamat dari kehancuran.
Dengan kata lain, secara anekdotal orang bisa mengisolasi ciri ini atau itu, menurut selera atau minatnya, atau orang bisa sekadar membuat daftar sembarangan ciri-ciri terisolasi itu. Banyak dari ciri itu sangat penting. Akan tetapi pertama-tama sangat penting membuat gambar yang koheren tentang zaman kita, meskipun abad ini berakhir di tengah-tengah deklarasi yang gegap-gempita tentang akhir dari begitu banyak yang lain: tamatnya ideologi, tamatnya sejarah, tamatnya modernitas, tamatnya sosialisme, tamatnya bangsa dan negara-bangsa, dan sebagainya. Saya dalam tulisan lain menggunakan istilah "Pasca Kondisi" suasana pemikiran pascamodern yang tampaknya berkubang dalam ketemaraman yang permanen. Tetapi, untuk membuat gambar yang koheren tentang abad yang sekarang mengabur ke masa lalu, paling baik mengingat kembali aspirasi-aspirasi dan perjuangan-perjuangan sentralnya; semuanya, termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi, bisa dipandang dalam perspektif yang tepat. Kemudian, dalam tulisan ini saya akan berkomentar dengan cara yang sangat umum tentang apa yang merupakan ciri pendefinisi abad ini. (Esai-esai selanjutnya dalam seri ini akan menyoroti soal-soal yang lebih khusus.) Ketika mulai merefleksikan abad ke-20, perlu sedikit pemahaman untuk mengerti bahwa apa yang membuat abad ini khas dalam seluruh abad milenium yang sekarang juga sedang mendekati akhirnya, dan seluruh milenium yang sebelumnya, adalah bahwa sosialisme muncul sebagai fakta sentral sekitar mana hampir semua aspirasi dan konflik pada skala global terbentuk: perjuangan untuk dan menentang sosialisme, pencapaian untuk mewujudkannya, kegagalan dan kekalahannya, sekutu-sekutu dan musuh-musuhnya, perang (panas dan dingin), penumpahan darah tetapi juga kebesarannya.
Itu adalah salah satu cara untuk mengatakannya. Sama bisa dimengertinya, orang bisa mengatakan bahwa abad ini dibentuk sebagai segi tiga oleh kekuasaan imperialis di satu sisi, dan perjuangan menentang kekuasaannya pada sisi lain, yang dilancarkannya, utamanya oleh kekuatan-kekuatan sosialisme dan pembebasan nasional. Tidak satupun dari kekuatan-kekuatan ini berasal dari abad ke-20. Sejarah kapitalisme kolonialis merentang sepanjang setengah milenium, dan tak satupun rakyat yang disapu-bersih oleh kolonialisme tanpa melakukan perjuangan; dalam pengertian ini anti-kolonialisme itu sama tuanya dengan kolonialisme itu sendiri. Dan, sejumlah gagasan awal tentang sosialisme muncul pada akhir abad ke-18, di dalam kawah Revolusi Prancis. Karena itu gagasan sosialisme itu sama tuanya dengan gagasan tentang revolusi itu sendiri, dalam pengertian modern; dan, pada pertengahan abad ke-19, Marx dan Engels telah mulai merumuskan teori tentang revolusi proletariat yang diwarisi oleh abad ke-20. Akan tetapi, semua kekuatan ini - kapitalisme dan kolonialisme, serta sosialisme dan pembebasan nasional anti-kolonial - mengalami perubahan besar-besaran selama abad ke-20. Mengingat beberapa rinciannya memberi kita perspektif yang baik tentang perubahan-perubahan yang sangat penting ini.
Partai-partai massa kelas buruh memang muncul di Eropa pada perempat terakhir abad ke-19, dan pada dasawarsa 1920-an partai-partai itu telah menduduki posisi-posisi penting di Parlemen, bahkan memenangkan pluralitas suara di negeri-negeri seperti Jerman, Austria, Belgia, Swedia, Norwegia, Findlandia, Italia, dan Negeri Belanda. Akan tetapi Revolusi Bolshevik adalah peristiwa kunci yang mengajukan persoalan perubahan revolusioner pada agenda di sejumlah negeri. Kombinasi partai-partai massa kelas buruh dan kemungkinan revolusi di seluruh benua [Eropa] inilah yang menghasilkan gejala fasisme. Tidak mengherankan bahwa fasisme paling ganas di empat negeri ini - Spanyol, Jerman, Italia, dan Austria - yang gerakan buruhnya paling kuat. Juga tidak mengejutkan bahwa kecenderungan-kecenderungan fasistis Kanan Jauh terus menjadi kecenderungan yang tepat waktu di zaman imperialisme sepanjang abad ini pada tingkat global.
Tetapi Revolusi Bolshevik juga mengubah politik sosialis dari gejala Eropa menjadi gejala internasional, gejala global. Transformasi ini disebabkan oleh lima faktor. Bahwa pemutusan revolusioner pertama kali terjadi di masyarakat Russia yang umumnya agraris menghasilkan perubahan besar dalam teori revolusi, menempatkan persekutuan buruh-petani sebagai prasyarat bagi politik proletariat, yang dengan demikian membuka jalan bagi kaum tani untuk muncul sebagai kekuatan revolusioner. Semua revolusi yang meletus sesudah Revolusi Bolshevik terjadi di masyarakat yang umumnya petani. Kedua, teori Bolshevik, seperti yang dikemukakan oleh Lenin dan kawan-kawannya, serta menentang semua arus pemikiran borjuis Eropa, mengakui keabsahan persoalan nasional dan kolonial, yang dengan demikian mengakui perlunya perang pembebasan nasional di seluruh Asia, Afrika, Amerika Latin dan di sudut-sudut Eropa sendiri. Semua revolusi sosialis sesudahnya punya hubungan intrinsik dengan nasionalisme revolusioner dan anti-imperialisme, sedang politik komunis punya pengaruh yang besar pada banyak gerakan nasionalis, dari India sampai Afrika Selatan. Ketiga, Komunis Internasional (Komintern) selama dua dasawarsa atau lebih merupakan tempat banyak orang revolusioner belajar mengenai teori dan praktek revolusi sosialis dan sebagai forum kaum militan dari seluruh dunia untuk belajar satu sama lain secara langsung, dengan sedikit halangan bahasa, ras, wilayah atau agama. Keempat, teori dan praktek sosialisme menjunjung tinggi gagasan bahwa perubahan revolusioner diperlukan tidak hanya oleh kelas-kelas yang terbentuk di wilayah pemilikan dan produksi - dengan kata lain, buruh dan petani - tetapi juga oleh seluruh kelompok sosial yang menghadapi berbagai macam penindasan: kaum perempuan sebagai kaum perempuan, kaum minoritas sebagai kaum minoritas, golongan pengrajin yang diluluh-lantakkan oleh pasar kapitalis, kelompok-kelompok bahasa, satuan-satuan budaya, dan sebagainya; bahwa perempuan seluruh bangsa atau agama punya kepentingan yang sama - gagasan tentang Internasional Perempuan, misalnya, pertama tumbuh di medan sosialis, jauh sebelum feminisme modern terbersit di benak siapapun. Kesatuan sosialis dipandang sebagai percaturan dialektis antara seluruh kepentingan partikular, golongan dengan kepentingan bersama, universal - karena itulah muncul konsepsi terkenal Gramsci tentang partai Komunis sebagai "intelektual kolektif."
Terakhir, semua ini diterjemahkan menjadi kebudayaan universalis yang kuat. Kebudayaan ini terdiri dari lembaga-lembaga - partai-partai politik, serikat-serikat buruh, organisasi-organisasi massa perempuan dan pelajar/mahasiswa, kelompok-kelompok teater, perhimpunan-perhimpunan penulis, komite-komite anti-fasis, dan seterusnya - dan nilai-nilai. Bertentangan tajam dengan globalisasi kapitalis yang secara intrinsik bersifat rasis, nilai utama yang dijunjung tinggi dalam internasionalisme sosialis adalah kesetaraan radikal universal. Maka, dalam pengertian ini, gerakan sosialis menjadi pendukung utama nilai-nilai rasional dan egaliter Pencerahan abad ke-18. Karena itu, dengan sangat tepat Eric Hobsbawm menyebut arus sosialis kumulatif sebagai "Kiri Pencerahan." Karena itu pulalah serangan pascamodernis terhadap Marxisme bergandeng-tangan dengan serangan terhadap Pencerahan.
Karena semua revolusi sosialis adalah revolusi abad ke-20, dan karena pada abad inilah sosialisme tidak lagi merupakan gejala Eropa dan menyebar ke seluruh dunia, menjadi warisan umum untuk seluruh umat manusia dan aspirasi bagi emansipasi universal, kita bisa mengatakan bahwa perjuangan praktis untuk sosialisme adalah gejala unik abad ke-20.
Beberapa transformasi analog terjadi dalam perjuangan anti-kolonial juga. Ciri menonjol semua perjuangan anti-kolonial sebelum abad ini adalah bahwa mereka dipimpin dan dilancarkan oleh strata tradisional, untuk mempertahankan sistem dan nilai tradisional. Sebaliknya, ciri menonjol gerakan anti-kolonial abad ke-20 adalah bahwa di banyak tempat kepemimpinan bergeser, dan semakin bergeser, ke kelas-kelas dan kelompok-kelompok sosial jenis modern, yang berjuang untuk masa depan yang dibayangkan sebagai baru dan berbeda [dari yang lama]. Bukannya gerakan-gerakan itu tidak punya kaitan dengan nilai-nilai budaya tradisional, tetapi pada jantung hampir semua visi itu adalah penciptaan suatu masyarakat baru di atas puing-puing penindasan kolonial. Oleh sebab itu, di banyak tempat gerakan anti-kolonial cenderung melebur dengan gerakan-gerakan reformasi sosial, dengan semangat demokratisasi yang berbeda-beda.
Revolusi Bolshevik besar pengaruhnya pada nasib gerakan anti-kolonial. Karena Russia zaman Tsar sendiri ada di pusat imperium kolonial yang sangat besar, yang belum lama melancarkan perang melawan bangsa Asia musuhnya (Jepang), suatu revolusi di sana secara wajar mengilhami banyak militan anti-kolonial. Kemudian Bolshevik mengumumkan kebijakan mendukung pembebasan nasional. Ketiga, ada gagasan yang amat sangat populer tentang penggalangan kekuatan buruh dan petani demi kebebasan: suatu revolusi bukan dari atas, oleh golongan elit, tetapi dari bawah, oleh massa. Kontribusi kunci sosialisme pada gerakan-gerakan anti-kolonial - dan seluruh gerakan untuk perubahan radikal - adalah bahwa proses emansipasi hanya bisa menjadi proses emansipasi-diri oleh kaum tertindas itu sendiri.
Keempat, keterlibatan langsung kaum komunis di banyak gerakan anti-kolonial. Kelima, fakta bawah kekuasaan kolonial utama juga adalah musuh sosialisme telah menciptakan afinitas alamiah dengan perjuangan sosialisme di banyak kalangan militan anti-kolonial. Kalau semua revolusi sosialis Asia dan Afrika mengambil bentuk gerakan pembebasan nasional, seluruh gerakan komunis dan sosialis di benua kita yang menjadi gerakan massa juga berbuat demikian dalam perspektif dan lingkungan nasionalisme. Tetapi, karena ini adalah nasionalisme revolusioner, ia berpikir tentang nasionalisme tidak sebagai sesuatu yang tertutup pada dirinya dan menyingkirkan yang lain, seperti nasionalisme etnis pada masa kini, tetapi sebagai bagian dari gerakan internasional melawan musuh kolonial bersama. Maka, sosialisme punya pengaruh pembudayaan yang dalam terhadap nasionalisme itu sendiri, menyelamatkannya dari chauvinisme dan prasangka sempit, serta memberinya isi universalis.
VISI tentang nasionalisme sebagai bagian dari proyek untuk emansipasi universal ini sangat diperkuat oleh dukungan besar yang dengan tepat waktu diterima gerakan-gerakan anti-kolonial dari negeri-negeri sosialis dan gerakan komunis seluruh dunia. Amílcar Cabral, pemimpin besar revolusi Guiné-Bissau, pernah mengingatkan semua orang bahwa setiap senapan yang ditembakkan dalam revolusi anti-kolonial di benua Afrika asalnya dari negeri sosialis. Karena itu ada banyak macam pemimpin nasionalis di seluruh dunia, dari Nelson Mandela sampai Yasser Arafat, yang sama sekali bukan komunis, tetapi menolak menjadi bagian dari perjuangan anti-komunis. Dan semua rejim nasionalis radikal, dari rejim Nasser di Mesir sampai FLN [Front Pembebasan Nasional] di Aljazair, yang menindas kaum komunis di dalam wilayahnya sendiri, menjalankan reformasi yang diilhami oleh proyek sosialis dan sangat mengandalkan pada Uni Soviet dalam perjuangan mereka merebut kemerdekaan dari imperialisme. Gerakan Non-Blok - yang lebih tepat disebut proyek Bandung - tak akan terbayangkan tanpa dukungan implisit dari negeri-negeri sosialis; Zhou En-lai [Perdana Menteri Republik Rakyat Tiongkok saat itu] dan Marsekal Tito [Presiden Republik Rakyat Yugoslavia saat itu] adalah tergolong pendirinya yang penting.
Ringkasnya, nasib nasionalisme radikal sangat terkait dengan nasib proyek sosialis, dan yang satu tidak akan bisa bertahan tanpa yang lain. Bisa dikatakan bahwa hancurnya Uni Soviet merupakan kemunduran besar bagi nasionalisme anti-imperialis dan juga bagi gerakan buruh. Juga tidak mengherankan bahwa nasionalisme etnis dan agama pada masa sekarang ini, yang tidak mengambil ilham menguntungkan dari sosialisme, cenderung sangat kanan dan gampang membunuh.
Tetapi bagaimana dengan musuh besar: imperialisme. Seperti kita kemukakan sebelumnya, sejarah kolonialisme meliputi kurun waktu setengah milenium. Kemudian, dengan pembagi-bagian Afrika, penaklukan kolonial terhadap dunia diselesaikan mendekati akhir abad ke-19. Pada fajar abad ke-20, meluasnya partai-partai buruh di Eropa dibayang-bayangi oleh persaingan sengit negara-negara penjajah yang akhirnya menjurus pada dua perang dunia yang membagi ulang dunia, berpuncak pada fasisme serta penemuan senjata penghancuran massal, yang mengancam kelangsungan hidup peradaban umat manusia itu sendiri. Kalau fasisme telah memangsa nyawa jutaan korban secara metodis dan dengan darah dingin, penggunaan bom atom oleh Amerika telah mendramatisir tingkat kekejaman yang bisa dilakukan oleh negara "demokrasi liberal." Melalui cara-cara itu diambil keputusan akhir apakah Nazi atau Amerika yang mendominasi planet bumi. Maka dari perspektif ini, kisah abad ke-20 juga bisa dikisahkan sebagai munculnya AS sebagai negara dominan tunggal di seluruh dunia. Kisah ini punya tiga tahap.
AMERIKA SERIKAT telah muncul sebagai negara kapitalis terkemuka pada akhir abad ke-19, mengalahkan Inggris. Karena itu perannya menjadi menentukan pada dua Perang Dunia. Pada akhir Perang Dunia Pertama, New York telah mengalahkan London sebagai pusat urat syaraf keuangan dunia, dan Presiden AS, Woodrow Wilson adalah orang yang mensupervisi penyelesaian pasca perang. Akan tetapi, baru setelah Perang Dunia Kedua, dengan penghapusan imperium-imperium kolonial dalam konteks dimana masing-masing negara Eropa telah saling menghancurkan bagian besar dari sumberdayanya, AS muncul menduduki supremasi global dunia kapitalis tanpa tandingan. Sampai sekitar pertengahan abad ini, pembagian dunia ke dalam imperium-imperium kolonial yang bersaingan telah menghambat munculnya pasar global yang sempurna yang mensyaratkan kapital bergerak tanpa hambatan apapun dan sama aksesnya ke seluruh wilayah yang dikuasainya, dan harus ada kekuasaan tunggal, atau sekurang-kurangnya kekuasaan yang bersatu untuk menjamin akses tersebut. Penghapusan imperium-imperium kolonial memudahkan munculnya AS ke posisi utama hegemonik itu. Untuk setengah abad berikutnya, AS mereorganisasikan pasar dunia di bawah hegemoninya dan mempersatukan dunia kapitalis di bawah kepemimpinan militer dan politiknya menghadapi tantangan sosialis dan kekuatan-kekuatan yang berhasil melepaskan diri dari belenggu melalui perang-perang pembebasan nasional. Karena akumulasi tanpa preseden yang dimungkinkan oleh kesatuan luar biasa dunia kapitalis, AS juga menjalankan peran utama dalam melancarkan revolusi seluruh bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, yang dengan sangat baik didukung oleh sekutu-sekutunya di Eropa dan Jepang.
Akan tetapi ada satu komplikasi. Krisis Perang Dunia Kedua yang telah memusnahkan kekuasaan kolonial dan menempatkan AS pada kedudukan hegemonik di dalam dunia kapitalis juga telah menghancurkan isolasi terhadap Uni Soviet sebagai satu-satunya negeri sosialis di dunia, dengan prestasi kuat dibuat di Eropa Tenggara dan Asia Timur, dan akhirnya di sudut-sudut Amerika Latin/Karibea dan juga Afrika.
Kalau Revolusi Bolshevik adalah peristiwa utama perempat pertama abad ini, Revolusi Tiongkok juga demikian dalam perempat kedua, dan revolusi Kuba dan Vietnam adalah peristiwa utama perempat ketiga. (Bahwa revolusi tidak terjadi di India itu sama signifikannya dengan fakta bahwa revolusi telah terjadi di Tiongkok; kegagalan India punya signifikansi menentukan dalam sejarah Asia selanjutnya. Tetapi ini memerlukan penjelasan tersendiri). Dan kalau gerakan-gerakan revolusioner yang muncul pada saat bangkitnya Revolusi Bolshevik dihantam cukup dengan kekuatan yang relatif kecil, tidak demikian halnya dengan revolusi-revolusi dan gerakan-gerakan revolusioner yang bangkit pada masa Revolusi Tiongkok. Baru setelah kekalahan di Chile, tahun 1973, gelombang pasang mulai menguntungkan imperialisme.
"Perang Dingin" adalah salah satu eufemisme yang paling bertentangan yang pernah dibuat oleh media. Masa 45 tahun antara berakhirnya Perang Dunia Kedua dan hancurnya Uni Soviet adalah tahun-tahun perang sipil yang sengit, tak kunjung padam, belum ada padanannya dalam sejarah di tingkat global. Benar bahwa tidak ada perang tembak-menembak antara AS dan Uni Soviet dan bahwa Eropa bagian tenggara mengalami perdamaian terlama dalam sejarah modern, tetapi hampir 200 perang pecah di Dunia Ketiga, kebanyakannya untuk menghalangi kemajuan komunisme, mengalahkan nasionalisme anti-kolonial, dan menahan gerakan-gerakan anti-imperialis lainnya yang baru muncul di negeri-negeri yang baru didekolonisasi. Embargo ekonomi dan intimidasi militer selama 40 tahun terhadap Kuba hanyalah ilustrasi kenyataan brutal bahwa tak satupun tempat kecil yang mengalami revolusi besar akan diperbolehkan mengalami kedamaian dan otonomi kalau sesuatu yang sama dengan sosialisme bisa dibangun di sana. Penghancuran manusia dan barang terhadap Vietnam sebelum Amerika mundur dari sana skalanya begitu besar sehingga Noam Chomsky dengan tepat mengatakan bahwa perang ini tidak dimenangkan oleh Vietnam tetapi oleh Amerika. Kisah yang sama terulang di tempat-tempat yang jauh seperti Angola, Moçambique, dan Nicaragua. Sementara itu Uni Soviet merosot kekuatannya karena pengeluaran sumberdaya yang luar biasa besar yang diperlukan untuk keamanan dirinya dalam menghadapi mesin militer gabungan negara-negara Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Kebanyakan rejim revolusioner kebingungan menghadapi persoalan-persoalan dan anakronisme-anakronismenya sendiri. Tetapi mengingat besarnya skala tekanan militer dan ekonomi yang bisa dilakukan imperialisme terhadap mereka, menyatakan bahwa telah terjadi kompetisi damai dalam mana rejim-rejim revolusioner itu hancur karena kalah dalam persaingan itu adalah pernyataan yang tidak senonoh.
TIGA perempat pertama abad ini adalah periode perluasan besar-besaran kekuatan sosialis, sekalipun ada banyak kelemahan. Arus baliknya mulai - dan kemudian berjalan dengan sangat pesat yang bahkan belum pernah dibayangkan oleh Central Intelligence Agency (CIA, dinas rahasia Amerika Serikat) - baru pada perempat keempat. Tulisan ini tidak memaparkan ringkasan kompleksitas arus balik itu. Cukup dikatakan bahwa baru setelah 1989-1990 AS memasuki tahap ketiga dominasinya yang masih berlangsung sekarang ini, karena baru setelah Uni Soviet hancur AS bisa mengatakan bahwa kekuataannya tanpa saingan dan tanpa tandingan: "superpower tunggal". Dalam kapasitas inilah ia berkemampuan mendesakkan rejim neo-liberalis akumulasi kapital di seluruh dunia, termasuk Eropa Barat sendiri dimana model Amerika, yang menggabungkan lapangan kerja yang tinggi (sering dengan tingkat upah yang telah dipotong) dengan kemiskinan yang luas, seperti yang telah diterapkan pada Inggris dan sekarang sedang didesakkan pada Eropa yang hampir semuanya diperintah oleh kaum demokrat sosial dan dimana "Eropa para bankir" yang bersatu sedang muncul dengan kedok Uni Eropa. Dan, dalam kapasitas inilah AS sepenuhnya mengubah NATO dan PBB menjadi alat politik luar negerinya, seperti diperlihatkan dalam Perang Teluk dan pemboman biadab terhadap Kosovo. Masih belum yang terakhir, badan-badan multilateral seperti World Trade Organization (WTO) menguniversalkan praktek-praktek korporasi, norma-norma hukum, dan model-model managemen yang digunakan oleh dan di Amerika Serikat. Melalui penerapan rejim neo-liberal inilah "Dunia Ketigaisasi" blok sosialis dilakukan dan krisis stagnasi Dunia Pertama diperlunak dengan mengekspor sejumlah hasil terburuknya ke negeri-negeri pinggiran, termasuk "macan" Asia Selatan dan Tenggara yang banyak dipuji-puji. Memang krisis sekarang yang terjadi di negeri-negeri "macan" itu dimanfaatkan untuk membeli aset-aset di sana dengan harga murah dan untuk memperlunak rejim-rejim perekonomian itu bagi masuknya neoliberalisme.
Pada penutup abad ini, ketika tidak ada lagi saingannya, pengeluaran AS untuk mempersenjatai diri lebih besar dibandingkan pengeluaran militer enam negara digabungkan jadi satu, yang berkaitan dengan kenyataan bahwa AS adalah satu-satunya kekuatan di dunia dengan jangkauan global yang memungkinkannya menghancurkan setiap rumah di planet ini dengan ketepatan luar biasa, dan dengan kekebalan hukum. Semua sekutunya, termasuk Eropa dan Jepang, mengandalkan padanya untuk mengamankan kepentingan mereka di wilayah-wilayah yang jauh dari pantainya sendiri - inilah sebabnya mereka bersikap patuh pada AS. Sekalipun mengalami kerusakan banyak cabang usaha produktifnya, AS tetap merupakan pusat global bagi pendidikan tinggi dan latihan untuk lapisan tekno-managerial yang punya hak istimewa. Dan, karena semua kemajuan yang dibuat oleh sekutu-sekutunya, terutama Jepang, di bidang teknologi informasi, AS tetap merupakan kekuatan korporat terkemuka dalam industri informasi yang ada sekarang, dengan kekuatan besar kontrol ideologis, khususnya terhadap Dunia Ketiga, terhadap mana satelit-satelit dan cabang-cabang serta antek-anteknya menyiarkan ke seluruh dunia berita-berita yang direkayasa di AS.
Gabungan monopoli tertinggi atas pendidikan tinggi kaum elit Dunia Ketiga dan atas industri informasi produksi ideologi yang luas jangkauannya telah berdampak luar biasa buruk bagi iklim politik negeri-negeri Dunia Ketiga. Misalnya, di India, tidak satupun saluran televisi atau koran nasional yang menyiarkan sepotong suara lain yang berbeda dengan padangan-dunia ekonomi dan politik Amerika; yang dipuja AS telah menjadi pikiran umum para informan pribumi ini. Ini juga bukan masalah intervensi langsung dengan kekuatan. Lebih dari sekadar merekayasa berita, AS merekayasa penyampai berita itu sendiri, dalam gaya dan kepekaan serta kesetiaan, melalui jaringan padat lembaga-lembaga yang saling berhubungan, dari kurikulum sekolah sampai pendidikan profesional yang berspesialisasi tingkat tinggi, tanpa memperhatikan lokasi geografisnya.
SEMENTARA sebagian besar abad ini, dari dasawarsa kedua sampai dasawarsa terakhir kedua, didominasi oleh perjuangan untuk dan menentang sosialisme, akhir abad ke-20 amat sangat mirip dengan akhir abad ke-19. Saat itu adalah masa dalam sejarah Asia dan Afrika, setelah kekalahan menentukan gelombang awal perjuangan anti-kolonial dan sebelum munculnya gerakan massa yang lebih modern abad ke-20, kekuatan kolonialisme paling besar dan anti-kolonialisme paling lemah.
Sekarang kita berada dalam proses rekolonisasi yang tidak punya preseden sejarah; ia berlangsung tanpa penaklukan teritorial seperti tipe kolonial tetapi mengambil kontrol atas sistem-sistem produksi, sumberdaya-sumberdaya lokal, rejim-rejim tenagakerja dan aparatus-aparatus ideologi, dalam cara yang paling invasif dan paling komprehensif yang dikenal sejarah. Perbedaan antara borjuasi nasional dan komprador sendiri menghilang; yang dulu borjuasi "nasional" sekarang telah menjadi komprador. Dalam kerangka yang lebih luas inilah kekuatan menakjubkan "superpower tunggal" yang telah bebas dari tantangan besar [blok sosialis], memperoleh keperkasaan yang tak terkalahkan, bahkan abadi. Di dasar semua kebohongan filosofis ideologi "Tamatnya Ideologi", yang sedang dipuja ialah bahwa kekuatan ini sekarang tak akan hancur. Hanya 13 tahun setelah berakhirnya abad ke-19, ketika kapitalisme kolonialis tampil begitu perkasa, Revolusi Bolshevik mematahkan kekuasannya, dan selama lima tahun selanjutnya untuk pertama kali dalam sejarah muncul gerakan anti-kolonial yang massif, di berbagai negeri, dari India sampai Mesir. Beberapa tahun selanjutnya memasuki abad ini, pertempuran-pertempuran awal Revolusi Tiongkok pecah, di Shanghai dan tempat-tempat lain. Abad revolusi, abad ke-20, saat itu dimulai sepenuhnya. Dalam pengertian itu, kita masih berkubang dalam arus balik logika fundamental abad ke-20, yang merupakan logika aspirasi sosialis, tuntutan demokratik, dan massa anti-imperialis yang bergerak melintasi benua-benua. Jadi, dalam pengertian sejarah, abad ke-21 belum dimulai, belum akan dimulai dalam waktu dekat ini, dan tidak bisa dimulai sampai arus balik itu sendiri telah dibalikkan.
Terjemahan tulisan Aijaz Ahmad "A Century of Revolution: Whose Century? Whose Millenium? A reflection on our times - I," Frontline, Volume 17, Issue 02 (22 Januari - 4 Februari 2000). Diterjemahkan oleh Nug Katjasungkana.

Minggu, 29 Juni 2008

Dunia adalah komedi bagi mereka yang melakukannya, atau tragedi bagi mereka yang merasakannya. - Horace Walpole

Ketahuilah, apapun yang menjadikanmu tergetar, itulah Yang Terbaik untukmu ! Dan karena itulah, Qalbu seorang pecinta-Nya lebih besar daripada Singgasana-Nya. - Jalaludin Rumi

Sesungguhnya seseorang bisa disebut mandiri bukan lantaran ia sudah tidak lagi meminta, tapi lebih karena ia sudah bisa memberi harapan akan kembali diberi. - Anonim

Cinta yang sejati tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui. - Anonim

Tak ada orang yang terlalu miskin sehingga tidak bisa memberikan pujian. - Anonim

Kesehatan selalu tampak lebih berharga setelah kita kehilangannya. - Jonathan Swift

Kita tidak bisa menjadi bijaksana dengan kebijaksanaan orang lain, tapi kita bisa berpengetahuan dengan pengetahuan orang lain. - Michel De Montaigne

Seorang konsultan psikologi paling jenius sekalipun tidak lebih mengerti tentang pikiran dan keinginan kita lebih daripada diri kita sendiri. - Anonim

Salah satu fungsi diplomasi adalah untuk menutupi kenyataan dalam bentuk moralitas. - Will Dan Ariel Dunant

Do all the goods you can, All the best you can, In all times you can, In all places you can, For all the creatures you can. - Anonim

Yang terpenting dari kehidupan bukanlah kemenangan namun bagaimana bertanding dengan baik. - Baron Pierre De Coubertin

Yang terpenting dalam Olimpiade bukanlah kemenangan, tetapi keikutsertaan ... - Baron Pierre De Coubertin

Hari ini Anda adalah orang yang sama dengan Anda di lima tahun mendatang, kecuali dua hal : orang-orang di sekeliling Anda dan buku-buku yang Anda baca. - Charles "tremendeous" Jones

Jika pekerjaan Anda lenyap, jati diri Anda tidak akan pernah hilang. - Gordon Van Sauter

Jangan biarkan jati diri menyatu dengan pekerjaan Anda. - Gordon Van Sauter

Ketika satu pintu tertutup, pintu lain terbuka; namun terkadang kita melihat dan menyesali pintu tertutup tersebut terlalu lama hingga kita tidak melihat pintu lain yang telah terbuka. - Alexander Graham Bell

Jenius adalah 1 % inspirasi dan 99 % keringat. Tidak ada yang dapat menggantikan kerja keras. Keberuntungan adalah sesuatu yang terjadi ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan. - Thomas A. Edison

Sumber kekuatan baru bukanlah uang yang berada dalam genggaman tangan beberapa orang, namun informasi di tangan orang banyak. - John Naisbitt

Uang merupakan hamba yang sangat baik, tetapi tuan yang sangat buruk. - P.t. Barnum

Ingatlah, semua ini diawali dengan seekor tikus, Tanpa inspirasi.... kita akan binasa. - Walt Disney