Powered By Blogger

Minggu, 15 Februari 2009






Diskurkus tentang mahasiswa dan gerakannya sudah lama menjadi pokok bahasan dalam berbagai kesempatan pada hampir sepanjang tahun. Begitu banyaknya forum-forum diskusi yang diadakan, telah menghasilkan pula pelbagai tulisan, makalah, maupun buku-buku yang diterbitkan tentang hakikat, peranan, dan kepentingan gerakan mahasiswa dalam pergulatan politik kontemporer di Indonesia. Terutama dalam konteks keperduliannya dalam meresponi masalah-masalah sosial politik yang terjadi dan berkembang di tengah masyarakat.

Bahkan, bisa dikatakan bahwa gerakan mahasiswa seakan tak pernah absen dalam menanggapi setiap upaya depolitisasi yang dilakukan penguasa. Terlebih lagi, ketika maraknya praktek-praktek ketidakadilan, ketimpangan, pembodohan, dan penindasan terhadap rakyat atas hak-hak yang dimiliki tengah terancam. Kehadiran gerakan mahasiswa --- sebagai perpanjangan aspirasi rakyat ---- dalam situasi yang demikian itu memang amat dibutuhkan sebagai upaya pemberdayaan kesadaran politik rakyat dan advokasi atas konflik-konflik yang terjadi vis a vis penguasa. Secara umum, advokasi yang dilakukan lebih ditujukan pada upaya penguatan posisi tawar rakyat maupun tuntutan-tuntutan atas konflik yang terjadi menjadi lebih signifikan. Dalam memainkan peran yang demikian itu, motivasi gerakan mahasiswa lebih banyak mengacu pada panggilan nurani atas keperduliannya yang mendalam terhadap lingkungannya serta agar dapat berbuat lebih banyak lagi bagi perbaikan kualitas hidup bangsanya.

Dengan demikian, segala ragam bentuk perlawanan yang dilakukan oleh gerakan mahasiswa lebih merupakan dalam kerangka melakukan koreksi atau kontrol atas perilaku-perilaku politik penguasa yang dirasakan telah mengalami distorsi dan jauh dari komitmen awalnya dalam melakukan serangkaian perbaikan bagi kesejahteraan hidup rakyatnya. Oleh sebab itu, peranannya menjadi begitu penting dan berarti tatkala berada di tengah masyarakat. Saking begitu berartinya, sejarah perjalanan sebuah bangsa pada kebanyakkan negara di dunia telah mencatat bahwa perubahan sosial (social change) yang terjadi hampir sebagian besar dipicu dan dipelopori oleh adanya gerakan perlawanan mahasiswa.

Alasan utama menempatkan mahasiswa beserta gerakannya secara khusus dalam tulisan singkat ini lantaran kepeloporannya sebagai "pembela rakyat" serta keperduliannya yang tinggi terhadap masalah bangsa dan negaranya yang dilakukan dengan jujur dan tegas. Walaupun memang tak bisa dipungkiri, faktor pemihakan terhadap ideologi tertentu turut pula mewarnai aktifitas politik mahasiswa yang telah memberikan konstribusinya yang tak kalah besar dari kekuatan politik lainnya. Oleh karenanya, penulis menyadari bahwa deskripsi singkat dalam artikel ini belum seutuhnya menggambarkan korelasi positif antara pemihakan terhadap ideologi tertentu dengan kepeloporan yang dimiliki dalam menengahi konflik yang ada. Mungkin bisa dikatakan artikel ini lebih banyak mengacu pada refleksi diskursus-diskursus politik kekuasaan otoritarian Orde Baru yang sengit dilakukan di kalangan aktifis mahasiswa dalam dekade 90-an. Di mana sebagian besar gerakan-gerakan mahasiswa yang terjadi kala itu, penulis ikut terlibat di dalamnya. Tentunya, pendekatan analisis dalam artikel ini lebih mengacu pada gerakan mahasiswa pro-demokrasi jauh sebelum maraknya gerakan mahasiswa dalam satu tahun terakhir ini, yang akhirnya mengantarkan pada pengunduran diri Presiden Soeharto.

Pemihakan terhadap ideologi tertentu dalam gerakan mahasiswa memang tak bisa dihindari. Pasalnya, pada diri mahasiswa terdapat sifat-sifat intelektualitas dalam berpikir dan bertanya segala sesuatunya secara kritis dan merdeka serta berani menyatakan kebenaran apa adanya. Maka, diskursus-diskursus kritis seputar konstelasi politik yang tengah terjadi kerap dilakukan sebagai sajian wajib yang mesti disuguhkan serta dianggap sebagai tradisi yang melekat pada kehidupan gerakan mahasiswa.

Pada mahasiswa kita mendapatkan potensi-potensi yang dapat dikualifikasikan sebagai modernizing agents. Praduga bahwa dalam kalangan mahasiswa kita semata-mata menemukan transforman sosial berupa label-label penuh amarah, sebenarnya harus diimbangi pula oleh kenyataan bahwa dalam gerakan mahasiswa inilah terdapat pahlawan-pahlawan damai yang dalam kegiatan pengabdiannya terutama (kalau tidak melulu) didorong oleh aspirasi-aspirasi murni dan semangat yang ikhlas. Kelompok ini bukan saja haus edukasi, akan tetapi berhasrat sekali untuk meneruskan dan menerapkan segera hasil edukasinya itu, sehingga pada gilirannya mereka itu sendiri berfungsi sebagai edukator-edukator dengan cara-caranya yang khas".

Masa selama studi di kampus merupakan sarana penempaan diri yang telah merubah pikiran, sikap, dan persepsi mereka dalam merumuskan kembali masalah-masalah yang terjadi di sekitarnya. Kemandegan suatu ideologi dalam memecahkan masalah yang terjadi merangsang mahasiswa untuk mencari alternatif ideologi lain yang secara empiris dianggap berhasil. Maka tak jarang, kajian-kajian kritis yang kerap dilakukan lewat pengujian terhadap pendekatan ideologi atau metodologis tertentu yang diminati. Tatkala, mereka menemukan kebijakan publik yang dilansir penguasa tidak sepenuhnya akomodatif dengan keinginan rakyat kebanyakan, bagi mahasiswa yang committed dengan mata hatinya, mereka akan merasa "terpanggil" sehingga terangsang untuk bergerak.

Dalam kehidupan gerakan mahasiswa terdapat adagium patriotik yang bakal membius semangat juang lebih radikal. Semisal, ungkapan "menentang ketidakadilan dan mengoreksi kepemimpinan yang terbukti korup dan gagal" lebih mengena dalam menggugah semangat juang agar lebih militan dan radikal. Mereka sedikit pun takkan ragu dalam melaksanakan perjuangan melawan kekuatan tersebut. Pelbagai senjata ada di tangan mahasiswa dan bisa digunakan untuk mendukung dalam melawan kekuasaan yang ada agar perjuangan maupun pandangan-pandangan mereka dapat diterima. Senjata-senjata itu, antara lain seperti; petisi, unjuk rasa, boikot atau pemogokan, hingga mogok makan. Dalam konteks perjuangan memakai senjata-senjata yang demikian itu, perjuangan gerakan mahasiswa --- jika dibandingkan dengan intelektual profesional ---- lebih punya keahlian dan efektif.

Kedekatannya dengan rakyat terutama diperoleh lewat dukungan terhadap tuntutan maupun selebaran-selebaran yang disebarluaskan dianggap murni pro-rakyat tanpa adanya kepentingan-kepentingan lain meniringinya. Adanya kedekatan dengan rakyat dan juga kekauatan massif mereka menyebabkan gerakan mahasiswa bisa bergerak cepat berkat adanya jaringan komunikasi antar mereka yang aktif ( ingat teori snow bowling)..

Oleh karena itu, sejarah telah mencatat peranan yang amat besar yang dilakukan gerakan mahasiswa selaku prime mover terjadinya perubahan politik pada suatu negara. Secara empirik kekuatan mereka terbukti dalam serangkaian peristiwa penggulingan, antara lain seperti : Juan Peron di Argentina tahun 1955, Perez Jimenez di Venezuela tahun 1958, Soekarno di Indonesia tahun 1966, Ayub Khan di Paksitan tahun 1969, Reza Pahlevi di Iran tahun 1979, Chun Doo Hwan di Korea Selatan tahun 1987, Ferdinand Marcos di Filipinan tahun 1985, dan Soeharto di Indonesia tahun 1998. Akan tetapi, walaupun sebagian besar peristiwa pengulingan kekuasaan itu bukan menjadi monopoli gerakan mahasiswa sampai akhirnya tercipta gerakan revolusioner. Namun, gerakan mahasiswa lewat aksi-aksi mereka yang bersifat massif politis telah terbukti menjadi katalisator yang sangat penting bagi penciptaan gerakan rakyat dalam menentang kekuasaan tirani.

KeLeMbAgAaN MaHaSiSwA

Perjalanan sejarah demokrasi di Indonesia mengalami perubahan yang luar biasa pada tahun 1998. Ketika rezim orde baru berkuasa kebebasan untuk mengeluarkan pendapat, menyam-paikan aspirasi sangat dibatasi apalagi ketika aspirasi-aspirasi yang menyangkut pemerintahan pada saat itu. Tidak sedikit para aktivis yang ditangkap dan dijebloskan ke penjara karena suara vokalnya.

Pada tahun 1998 merupakan tonggak sejarah dalam perjalanan demokrasi Indonesia. Sejak jatuhnya rezim orde baru berganti dengan era reformasi, kebebasan masyarakat untuk mengeluarkan pendapat, berserikat, berkumpul, menyampaikan aspi-rasi, dijamin sepenuhnya oleh pemerintah dalam undang-undang. Perubahan demo-krasi yang begitu dahsyatnya itu tidak lain merupakan hasil perjuangan mahasiswa. Banyak pengamat menilai bahwa per-juangan mahasiswa tersebut adalah murni sebagai gerakan mahasiswa tanpa di-boncengi pihak-pihak tertentu, karena per-juangan mereka didasari pada nilai-nilai intelektual dan moral.

Perjuangan mahasiswa dalam perjalanan demokrasi negara, ternyata diterapkan juga di lingkungan kampus. Di tahun yang sama mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi melakukan pertemuan yang menghasilkan bahwa di setiap kampus perlu dibentuk badan eksekutif sebagai pelaksana terhadap aspirasi mahasiswa yang dikenal dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), dan suatu badan yang berfungsi sebagai pengontrol lembaga eksekutif yang selanjutnya disebut Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) atau Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM). Sedangkan lembaga yudikatifnya di lingkungan kampus tidak ada, karena terbentur dengan sistem birokrasi rektorat.

Hal yang sama juga terlihat adanya pemilu pada kampus untuk memilih ketua BEM dan mahasiswa yang akan duduk di DPM, sebagaimana pemilu negara untuk memilih presiden dan anggota DPR. Pemilu kampus pun juga menggunakan sistem kepartaian yang berisikan mahasiswa yang memiliki ideologi, visi, misi yang sama. Dari pengamatan, terdapat beberapa poin penting pada sistem partai dalam pemilu kampus, antara lain:

Pertama, partai menjadikan pemilu lebih menarik. Kita sadari bahwa kondisi mahasiswa saat ini sangat apatis. Maha-siswa terlalu disibukkan dengan aktivitas perkuliahan, tugas-tugas kuliah, sehingga lupa akan interaksi sosial dengan kelembagaan-kelembagaan mahasiswa. Hal tersebut tentu saja fungsi kontrol maha-siswa dan regenerasi terhadap kelembagaan mahasiswa tidak berjalan sepenuhnya. Dengan adanya partai diharapkan mening-katkan mahasiswa untuk ikut berperan serta dalam kelembagaan mahasiswa dan mempermudah regenerasi kelembagaan.

Kedua, partai menjadikan persaingan dalam pemilu lebih besar. Dengan banyaknya partai yang mengikuti pemilu kampus, tentunya persaingan pun lebih besar. Di sini akan terlihat cara-cara yang dilakukan partai untuk memenangkan pemilu, apakah “sehat” sesuai dengan prosedur-prosedur yang ditentukan atau tidak. Karena bukan hal mustahil terjadi kecurangan-kecurangan dalam pemilu. Peran mahasiswa sangat diperlukan dalam hal ini untuk fungsi kontrol pemilu.

Ketiga, partai mencerminkan ideologi mahasiswa. Kita tidak dapat pungkiri bahwa terdapat ideologi-ideologi yang berkem-bang di kalangan mahasiswa, dan biasanya dari kesamaan ideologi itulah muncul partai-partai mahasiswa. Dengan demikian terlihat jelas ketika terdapat calon-calon ketua eksekutif maupun legislatif, mahasiswa sebagai pemilih dapat mengetahui latar belakang, asal, dan siapa yang berada di belakang si calon tersebut.

Dengan keterbatasan yang ada mahasiswa telah berhasil menerapkan sistem kene-garaan di lingkungan kampus, meskipun tidak mutlak sepenuhnya. Kita dapat mengatakan bahwa kampus merupakan sebuah replika kecil dari negara. Tetapi yang jadi pertanyaan adalah apakah demokrasi kampus sudah berjalan dengan semestinya? Apakah pemilu kampus sudah berjalan dengan transparan dan jujur? Apakah lembaga dan partai mahasiswa sudah mewakili aspirasi mahasiwa ataukah hanya aspirasi sekelompok golongan? Hal tersebut tentunya harus kita sadari bersama fungsi dan peran kita sebagai mahasiswa sebagai kaum muda yang bertindak dengan mengedepankan nilai-nilai moral dan intelektual. Wallahua’alam bishowab.